Rabu, 17 Agustus 2016

Tengku Sulung Pahlawan Yang Terlupakan


Tidak dapat dipungkiri, sebagian besar masyarakat indonesia hanya tahu bahwa perjuangan perlawanan terhadap penjajahan terfokus di pulau Jawa saja. Tapi tidak demikian adanya sangat banyak
perjuangan melawan penjajah di daerah lain, tidak terkecuali di Tanah Melayu ada
banyak pejuang kemerdekaan ditanah Melayu, namun kurang
di kenal bahkan terkesan terlupakan dan terabaikan oleh bangsa ini.
Sebut Saja Sultan Syarif Qasim, Tuanku Tambusai, Letnan Dua Muhammad Boya, dll.
Dihari Kemerdekaan ini kita akan coba mengingat Seorang pejuang tanah melayu di daerah Reteh yang dulunya merupakan Daerah kekuasaan kerajaan melayu Riau.
Beliau Adalah Tengku Sulung. Pada masa kecilnya Tengku Sulung sudah dididik dengan ajaran
disiplin terutama tentang Keagamaan,yang menjunjung tinggi keadilan dan menentang
adanya penindasan serta kekejaman, pemahamannya tentang Agama Islam
membuatnya tidak suka dengan oknum dan orang Belanda yang semena-mena
menzhalimi tanpa kenal dan pandang bulu.
Tengku Sulung sangat menentang Belanda bahkan Ia tidak pernah bekerja sama
dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Tengku Sulung merupakan seorang
pejuang kemerdekaan yang melakukan
perjuangan melawan kekejaman kolonial
Belanda di daerah Selatan Indragiri Hilir, tepatnya di Reteh
Tengku Sulung diperkirakan lahir di KepulauanLingga, Kepulauan Riau.
Saat memasuki masa Remaja Tengku Sulung pernah mendapat pelatihan untuk
berlayat dan pergi ke Kalimantan,  saat berada diKruang Kalimantan Tengku Sulung
terkena tembakan di bagian mukanya sehingga memberi bekas pada
wajahnya sampai masa tuanya. Tengku Sulung mempunyai seorang sahabat karib
bernama Encik Montel, (namun sayang tidak ada litararur yang pasti tentang Encik Montel). Tengku Sulung dan Encik Montel pada akhirnya menjadi bajak laut.  Menirut beberapa sumber namum belum jelas kebenarannya, Tengku Sulung bersama Encik Montel menjadi pemimpin para Lanun (Bajak
Laut) yang tersohor dan menetap di Kalimantan. Perampokan dan pembajakan terhadap Kapal-Kapal Kolonial Belanda di peraian Kalimantan oleh Tengku Sulung dan Encik Montel membuat Belanda resah dan mengangap Tengku
Sulung dan Encik Montel sebagai ancaman besar. Keresahan ini menimbulkan niat Belanda untuk melakukan penangkapan terhadap Tengku Sulung ataupun Encik
Montel. Usaha Belanda untuk menangkap Tengku Sulung berhasil. Setelah tertangkap dan kemudian
diberikan pengampunan oleh Komisaris Du
Bus De Giusignies Tengku Sulung diperkenankan tinggal di sepanjang Sungai
Reteh dengan syarat yang diajukan bahwa ia harus melepaskan pekerjaan membajak.
Hal ini memang ditaatinya sungguh- sungguh.
Wilayah Reteh yang dulunya dibawah kekuasaan kerajaan Lingga. Tengku Sulung didaulat sebagai Panglima Besar Reteh oleh Sultan Muhammad, Sultan Lingga yang berkuasa saat itu.
Kemudian Tengku Sulung diperintahkan untuk tunduk kepada Sultan Sulaiman yang diangkat oleh Belanda untuk kawasan yang sama, menggantikan Sultan Mahammad, namun perintah ini tidak ditaati oleh Tengku Sulung.

Semula Tengku berkedudukan Hulu Reteh Sekitaran Desa Kotabaru Reteh, yang sekarang terkenal dengan nama Kuala Proyek sebelah Hulu Pulau Kijang sekitar 33 km dari
Pulau Kijang, namun karena wilayah ini mudah dijangkau oleh Belanda maka Tengku sulung
memindahkah pusat Administrasi dan Benteng Prrtahanan ke Wilayah hulu Sungai Batang, disini Tengku Sulung membangun beberapa Benteng. Beteng pertahanan Tengku Sulung yang kini
diabadikan menjadi Desa Benteng, sekaligus ibukota Kecamatan Sungai Batang, Indragiri Hilir di Hulu SungaiBatang. Benteng ini dibangun di kawasan seluas sekitar 2 hektar. Konon Sekitar 3 Km dari benteng ini terdapat rumah Tengku Sulung berupa bengunan kecil yang ditumbuhi pohon
dedap. Dibenteng itulah pertahanan Tengku Sulung dan pasukannya dalam melawan
Belanda yang datang dari pusat keresidenan di Tanjung Pinang. Tengku
Sulung sangat didukung oleh pasukannya baik yang berdiam di Hilir maupun di
Hulu. Akibat tindakannya yang sering mengganggu pelayaran Belanda di sekitar perairan Kepulauan Riau membuat pihak Belanda menjadi marah dan pada tanggal 13 Oktober 1858, pasukan Tengku Sulung dikepung oleh Belanda dari berbagai sudut, namun Tengku Sulung masih mendapat bantuan dari orang-orang Melayu asli Reteh, Enok dan Mandah.
Bahkan Pasukan dari Kerajaan Indragiri melakukan
pemenyamar guna membantu perjuangan Tengku Sulung.
Sungguh sangat di sayangkan pada
akhirnya selesai sudah Perjuangan Tengku
Sulung dan Pasukannya terhenti setelah
Belanda membawa Haji Muhammad
Thaha, juru tulis Tengku Sulung yang
sebelumnya tertangkap oleh Belanda di
Kotabaru. Waktu itu, Tengku Sulung di
ultimatum oleh Residen Belanda supaya
menyerah kepada Komandan Ekspedisi.
Namun Tengku Sulung masih memberikan
perlawanan, karena kekuatan Tengku
Sulung yang tidak berimbang dibanding
Pasukan Belanda, akibatnya penyerangan
Belanda pada tanggal 7 November 1858
banyak menewaskan rakyat Reteh dan
Tengku Sulung sendiri juga ikut tertembak
di bagian leher oleh pasukan Belanda pada
saat sedang memeriksa tembok benteng.


Perjuangan Tengku Sulung untuk
tanah Melayu hingga kini belum banyak yang tahu. Mungkin nama Tengku Sulung yang melekat pada nama sebuah Rumah sakit Umum Daerah di Pulau Kijang ini cara kita mengingat perjuangan dan jasanya.
DAFTAR PUSTAKA
- Abrus S,Rustam. 1998. Sejarah
perjuangan panglima Besar Pateh tengku
Sulung melawan Belanda Tahun 1858.
Pekanbaru: unri press
- Junus, hasan. 2000. Kerajaan Indragiri.
Pekanbaru: unri press
- http://www.cekau.com/2012/03/
pahlawan-melayu-riau-yang-
terlupakan.html

Sabtu, 25 Juni 2016

Bangsat yang Anggun




Anggun, sedikit malu-malu dan terlihat sopan....!!!!.
Indah bukan........?!.
Seperti itulah langkah dan lenggang yang kau perlihatkan....!!!
Sedap dipandang mata.....!!!
Namun.....!!!!!
Pedih, saat kau mulai beraksi.
Sedikit tapi pasti.
Dengan malam yang selesai kau ambil dari sisa ngantuk, manusia
yang kau angap lebah pekerja.
Katamu disini panas.....!!!.
 tapi mengapa kau betah berlama-lama.
bahkan sempat bercinta, dengan seonggok sampah.
Yang seekor Kecoapun tak sudi menghampirinya.
Kau tampak sumeringah,
Malah tertawa diantara bau peluh dan pakaian kumuh.
Kueja gigimu yang terbuka, tampak kaca berpantul
bangkai bernama kemunapikan.
Seperti Ulat, dan belatung dibangkai Babi.
Silatan lidahmu tak seberapa, tapi binar matamu siratkan birahi
yang meninggi
Kau membisu dan tak berkata-kata lagi, namun semakin
binal menggoyagkan jari mu.....!!!!
Melebihi lenggang seekor Kobra, Ganas.....!!!!!
Namun sekali lagi ini sangat nikmat
Lebih nikmat lagi, ketika kau mengais sampai habis.
Sampah yang bahkan seekor Kecoakpun tak sudi mendekat.
Kau ambil dan kau suapi.
Memelas rasa iba dan kasihan, yang hampir mampus....!!!!
menghitung hari.
Sayang.......!!!!!.
Kita bangsat kan .....?!!!.
Yang berlenggang Malaikat......?!!!

Minggu, 15 Mei 2016

Sudah Untuk Hati Yang Berbeda




Rindu itu indah
Seperti sorot matamu saat menatap syahdu
Ah, aku selalu mengingatnya
Meski kini tinggal catatan
Karena goresan warna di canvas cinta telah kau
pudarkan, bahkan hilang
Tapi, rindu itu tetap indah
Adakah kau mengingatnya.....?!.

Aku masih disini.
Masih di tenpat yang sama.
Tegak tak bergeming.
Hanya wajah sedikit berpaling.
Masih dengan senyum yang sama.
Masih dengan tawa yang serupa.
Tetap dengan corak yang ada.
Walau mungkin berlain rona.
 Tak ada yang berubah.
Tapi sudah berlain kisah.
Goresan warna tidak ku hapus.
Sekedar catatan yang ku ganti.
Rinduku tetap ada.
Sedikitpun tak pernah sirna.
Tapi untuk hati yang berbeda.

Kamis, 07 Januari 2016

Bukan Yang Dulu


BUKAN YANG DULU


Aku tahu ini hari ini tak seperti dulu lagi.
Aku tahu aku dan kau bukan yang dulu lagi.
Kini kita berada pada tempat yang berbeda.
Biasa saja, jangan sungkan....
Tatap aku dengan berani...
Santai saja, tak kan ku sentuh hati mu lagi.
Aku bukan yang dulu lagi.
Jangan ragu.........
Seyumlah seindah dulu.
Jangan tunduk, tatap aku dengan berani....
Aku bukan yang dulu lagi.
Tak kan kucuri hatimu lagi.
Mengetukpun aku tak sudi.
Ah....mungkin aku salah.
Karena kita lama tak jumpa.
Sehingga senyummu telah ku lupa.
Pandang matami tiada cahaya.
Seri wajahmu kupandang sirna.

Selasa, 05 Januari 2016

Secangkir Kopi


Secangkir Kopi
Secangkir Kopi saat gerimis.
Kepadamu...
Saat jariku menari diatas papan tombol komputerku ini, aku lagi memikirkan kamu.
Ada perkara yang tak kunjungg usai, bak laut seakan tiada bertepi, terniat hati untuk segera menyelesaikan perasaan yang seakan tiada berujung.
Lama sudah rasanya kita tidak bertegur sapa, hhhhhhmmmm Adek Abang sehat kan....?!. Sudah makan...?. Sudah Shalat.....?. Jangan lupa istirahat....!!!!.
Saat aku mengeja di papan ketik ini, ada yang mengganjal
Seakan menindih dada ku ini, terasa sempit menghela nafas
seakam tak berongga dada ini, sedikit sesak, memang sedikit hiperbola berlebihan....!!!, dan kamu pasti berfikir demikian, hhhhhhhmmmm terserah lah, tapi itu yang selalu aku rasakan. Saat aku menulis kata ini tak terasa air mata ku pun ikut berkata menetes dan terjatuh, entah bagaimana bisa walau hanya sedikit.
Umpama gerimis yang lama, meski tak deras, tapi cukup untuk membuat ku tak bisa kemama-mana. Hhhhhmmmm itulah kamu bagiku,
kamu adalah perkara cinta yang tak pernah kunjung usai.
Rasa yang pernah ada untukmu dulu umpama endapan Kopi ku ini, hitam pekat dan kental. Rasa ingin kuteguk semuanya apa yang ada didalam cangkir kopi ku ini sampai isi
cangkirku tak bersisa. Tapi itu tidak akan enak pasti
akan terasa sakit di tenggorokan. Namun sayang jika ku buang, untuk kamu ketahui
tahui sampai saat ini Endapan Kopi itu masih ada dan kian mengental.
Seperti matahari yang hadir di setiap pagi, kehadiranmu selalu kunanti.  Hadirmu yang dulu bak senja ditepian malam sekejap lalu hilang. Namun kamu telah membutku jatuh cinta dalam jangka waktu yang lama. Aku berharap suatu saat kamu menjadi orang yang ada disisiku begitu dekat, tampa sekat.
Kamu salah satu dari orang yang selalu ada dalam benakku. Terkadang hadir menghiasi mimpiku, membayangkan senyum dari bibirmu membuat aku lupa siapa yang ada disampingku. Namun
terkadang, hayalku tentangmu membuatku sesak tak karuan. Tak kan pernah habis aku berfikir Bagaimana bisa kamu dengan mudah masuk lalu bersemayam dalam hatiku. Sementara cintaku
yang sudah terlanjur jatuh tanpa rencana makin mengendap saja.
Rindu ini menyiksa walau hanya dalan sunyi, bertahta dihati beraja dijantung, aku tidak sedang bermain kata, hhhhhhmmmm sungguh, semoga kamu percaya tentang semua ini, aku berharap kamu menjadi orang yang dapat hatinya kupegang dengan tenang.
Tanpa sadar selalu ada kamu hadir dalam benakku. Aku tak tahu apa arti semua ini, rindu ini mirip endapan secangkir Kopi, Kental dan Pekat. Aku tidak pernah tahu mengapa ini bisa. Harapku tentangmu, kamu juga menyimpan rindu tentang ku, aku berharap segera tahu, agar hayalku tentangmu tak akan menyesakkanku. Kian lama kamu menjelma bagaikan gerimis. Kamu,
bagiku adalah perkara cinta yang tak kunjung usai.
air yang jatuh dari gerimis ini kuharap jatuh di cangkir kopi
yang mengendap, mncairkannya, supaya mudah kuruguk kembali..

Padamu kusampaikan.