Kamis, 07 Januari 2016

Bukan Yang Dulu


BUKAN YANG DULU


Aku tahu ini hari ini tak seperti dulu lagi.
Aku tahu aku dan kau bukan yang dulu lagi.
Kini kita berada pada tempat yang berbeda.
Biasa saja, jangan sungkan....
Tatap aku dengan berani...
Santai saja, tak kan ku sentuh hati mu lagi.
Aku bukan yang dulu lagi.
Jangan ragu.........
Seyumlah seindah dulu.
Jangan tunduk, tatap aku dengan berani....
Aku bukan yang dulu lagi.
Tak kan kucuri hatimu lagi.
Mengetukpun aku tak sudi.
Ah....mungkin aku salah.
Karena kita lama tak jumpa.
Sehingga senyummu telah ku lupa.
Pandang matami tiada cahaya.
Seri wajahmu kupandang sirna.

Selasa, 05 Januari 2016

Secangkir Kopi


Secangkir Kopi
Secangkir Kopi saat gerimis.
Kepadamu...
Saat jariku menari diatas papan tombol komputerku ini, aku lagi memikirkan kamu.
Ada perkara yang tak kunjungg usai, bak laut seakan tiada bertepi, terniat hati untuk segera menyelesaikan perasaan yang seakan tiada berujung.
Lama sudah rasanya kita tidak bertegur sapa, hhhhhhmmmm Adek Abang sehat kan....?!. Sudah makan...?. Sudah Shalat.....?. Jangan lupa istirahat....!!!!.
Saat aku mengeja di papan ketik ini, ada yang mengganjal
Seakan menindih dada ku ini, terasa sempit menghela nafas
seakam tak berongga dada ini, sedikit sesak, memang sedikit hiperbola berlebihan....!!!, dan kamu pasti berfikir demikian, hhhhhhhmmmm terserah lah, tapi itu yang selalu aku rasakan. Saat aku menulis kata ini tak terasa air mata ku pun ikut berkata menetes dan terjatuh, entah bagaimana bisa walau hanya sedikit.
Umpama gerimis yang lama, meski tak deras, tapi cukup untuk membuat ku tak bisa kemama-mana. Hhhhhmmmm itulah kamu bagiku,
kamu adalah perkara cinta yang tak pernah kunjung usai.
Rasa yang pernah ada untukmu dulu umpama endapan Kopi ku ini, hitam pekat dan kental. Rasa ingin kuteguk semuanya apa yang ada didalam cangkir kopi ku ini sampai isi
cangkirku tak bersisa. Tapi itu tidak akan enak pasti
akan terasa sakit di tenggorokan. Namun sayang jika ku buang, untuk kamu ketahui
tahui sampai saat ini Endapan Kopi itu masih ada dan kian mengental.
Seperti matahari yang hadir di setiap pagi, kehadiranmu selalu kunanti.  Hadirmu yang dulu bak senja ditepian malam sekejap lalu hilang. Namun kamu telah membutku jatuh cinta dalam jangka waktu yang lama. Aku berharap suatu saat kamu menjadi orang yang ada disisiku begitu dekat, tampa sekat.
Kamu salah satu dari orang yang selalu ada dalam benakku. Terkadang hadir menghiasi mimpiku, membayangkan senyum dari bibirmu membuat aku lupa siapa yang ada disampingku. Namun
terkadang, hayalku tentangmu membuatku sesak tak karuan. Tak kan pernah habis aku berfikir Bagaimana bisa kamu dengan mudah masuk lalu bersemayam dalam hatiku. Sementara cintaku
yang sudah terlanjur jatuh tanpa rencana makin mengendap saja.
Rindu ini menyiksa walau hanya dalan sunyi, bertahta dihati beraja dijantung, aku tidak sedang bermain kata, hhhhhhmmmm sungguh, semoga kamu percaya tentang semua ini, aku berharap kamu menjadi orang yang dapat hatinya kupegang dengan tenang.
Tanpa sadar selalu ada kamu hadir dalam benakku. Aku tak tahu apa arti semua ini, rindu ini mirip endapan secangkir Kopi, Kental dan Pekat. Aku tidak pernah tahu mengapa ini bisa. Harapku tentangmu, kamu juga menyimpan rindu tentang ku, aku berharap segera tahu, agar hayalku tentangmu tak akan menyesakkanku. Kian lama kamu menjelma bagaikan gerimis. Kamu,
bagiku adalah perkara cinta yang tak kunjung usai.
air yang jatuh dari gerimis ini kuharap jatuh di cangkir kopi
yang mengendap, mncairkannya, supaya mudah kuruguk kembali..

Padamu kusampaikan.